|
Executive Member
Join Date: 21 Dec 2002
Posts: 557
|
Can anyone help me with this?
I found this fanfic in a google search, but I don't know aht language it's in. I know it's a Vandread fanfic but I can't translate, can anyone help me?
Heero terpekur di depan sebuah makam. Nisan makam itu bertuliskan “Odin Lowe”.
“Ayah…perang telah selesai…sekarang tenanglah di sana. Sekarang aku bersumpah tidak akan membunuh lagi…demi perdamaian dunia…”
…
“Yap, sudah terbukti, sudah terbukti,” senandung Duo sambil memasuki ruangan tamu di dalam rumah, lebih tepatnya istana, milik Quatre Raberba Winner itu. Dua orang yang ada di dalam ruangan itu mendongakkan kepala.
“Terbukti? Apa maksudmu, Duo?” Tanya Quatre bingung.
“Tentang teman kita si malaekat Heero Yuy itu…” lanjut Duo sambil tersenyum simpul penuh arti. Releena, yang kebetulan sedang mengunjungi Quatre, memandang Duo dengan muka heran campur penasaran.
“Ternyata dia sudah punya pacar…dan nampaknya mereka akan menikah dalam waktu dekat!” tambah Duo sambil duduk. Releena terkesiap.
“Hm? Ada apa, Releena?” Tanya Quatre yang kebetulan memperhatikan raut muka Releena.
“Ah,…Tidak, tidak apa-apa kok,” jawab Releena berusaha tenang.
“Yang lebih menarik lagi, tentang pacarnya itu… Namanya Meia Gisborn, dan… percaya tidak, catatan riwayat hidupnya sama gelapnya dengan punya Heero!” tambah Duo sambil mengambil sekotak kecil permen dari kantong celananya dan memakan dua. Quatre tersenyum simpul.
“Wah…kalau begitu sih, sebaiknya kita menyiapkan pesta kejutan untuknya!” Celetuk Quatre sambil meminum teh yang ada dalam salah satu cangkir putih di atas meja tamu.
“Ya! Aku setuju sekali!” timpal Duo antusias.
“Hmh…kalau begitu aku permisi dulu, Quatre. Pekerjaan di kantor masih lumayan banyak,” ujar Releena sambil bangkit dan berjalan menuju pintu.
“Oh, ya, Releena…” ujar Duo sambil memandang ke arah Releena.
“Ada apa, Duo?”
“Nanti datang, ya, waktu pestanya!”
Releena tersenyum simpul, lalu pergi.
…
Heero menghela nafas sembari melihat jam tangannya. Sebentar lagi pintu pangkalan akan ditutup, tapi Meia belum kelihatan juga. Sudah hampir tiga jam berlalu sejak latihan gabungan sortie mereka selesai.
“Lama menunggu?” Tanya sebuah suara lembut dari belakangnya. Meia.
“Yah, lumayanlah. Kita pergi sekarang?” balas Heero sambil menggamit tangan Meia.
“Ya, kalau tidak tempat itu akan tutup,” jawab Meia sambil tersenyum.
“Masa? Kukira tempat itu buka semalaman?” goda Heero.
Mereka berdua pun berjalan ke arah tempat parkir sepeda motor. Heero merogoh sakunya untuk mengambil sebuah kunci kontak, lalu menstarter sepeda motor balap hitam miliknya. Setelah Meia naik, Heero pun memacu kendaraan itu menjauhi pangkalan militer itu, menuju kota.
…
“Bagaimana latihan tadi?” Tanya Heero sambil menyeruput segelas kopi.
“Yah…lumayan juga. Vandread kita makin kuat,” jawab Meia sambil menikmati es kelapa mudanya.
“Yah… Vandread…kita,…” desah Heero lambat sambil menghela nafas panjang.
“Eng,…Heero…”
“Ada apa, Meia?”
“Nggak, nggak ada apa-apa…”
Heero terdiam sejenak, sebelum seulas senyum -yang tidak biasa ditunjukkannya-
menghiasi wajahnya.
“Nampaknya kamu belum bisa lepas sepenuhnya dari masa lalumu…hm?” Tanya Heero lembut.
Meia terdiam sejenak. Wajahnya sedikit murung.
“Maaf…bukan maksudku menyinggungmu…” ujar Heero sambil merangkul Meia.
“Tidak…” balas Meia sambil menyandarkan kepalanya ke bahu Heero.
“Hmh…ngomong-ngomong, malam ini indah sekali, ya? Mengingatkanku pada sebuah lagu…”
“Ya…lagu itu…”
Heero pun mengecup kening Meia.
…
“Saya permisi pulang, nona Releena,” ujar seorang pria jangkung berkemeja putih sambil menenteng jaketnya.
“Ya. Terima kasih, ya, Spike,” jawab Releena sambil menyeruput secangkir kopi yang tersedia diatas meja kerja penuh dokumen yang terserak itu.
“Sama-sama,” balas Spike sambil berjalan pergi.
Sebentar kemudian gedung departemen luar negeri itu sudah kosong. Hanya tersisa para penjaga keamanan saja selain Releena, yang masih terpekur dalam kantornya.
Kenapa aku tak bisa melepaskannya?
Kenapa?
Dia pernah mau membunuhku!
Dia musuh utama pasifismeku!
Dia simbol peperangan!
Sadar, Releena, sadar!
Dia Musuhmu!
Tanpa terasa, Releena sudah meneteskan air mata sedih. Entah apa yang diisakkannya dalam tangis itu.
Entah berapa puluh menit Releena meluapkan perasaannya, sebelum telepon berdering. Jam menunjukkan pukul setengah satu pagi.
“Ha…halo…?”
“He? Nona Releena? Belum pulang juga yah? Kukira semua pegawai sudah pulang…”
“S…Spike? Kenapa me…<ehm>…menelepon?”
“Ah,…engga…aku cuma mau telepon sekuriti, minta dibukakan ruanganku soalnya mau ambil dokumen ketinggalan, tapi malah nyasar ke telepon ruang nona…”
“Eng…Spike…mau menemaniku ngobrol…?”
Suara Spike di ujung telepon itu hening sejenak.
“Ya…boleh deh…aku juga sama-sama ngga ada kerjaan en ngga bisa tidur nih…” jawab Spike sambil menghela nafas.
…Keesokan harinya…
Telepon yang terletak di samping ranjang Heero, dekat kepalanya, berdering keras.
“Yaa…<hoahep>…Halo?” desah Heero setengah mengantuk ketika mengangkat telepon.
“Wake Up Call…sudah bangun kan?”
“Hmh… Kamu selalu bangun lebih pagi dariku, Meia…”
“Yah, begitulah…eh, hari ini kita patrol sortie ke berapa sih?”
“Rasanya… sortie sebelas…kalo ngga salah…”
“Hm… malam, ya… di mana sih?”
“L318999-2…koloni baru itu…”
“OK,…kututup dulu, tapi jangan lupa mandi seperti kemarin, ya!”
“Yeah, oke…”
Telepon pun ditutup. Tak lama kemudian, Heero pun bangkit menuju kamar mandi.
…Malam itu…
Sebuah mobile suit berukuran cukup besar warna perak terbang pelan mengelilingi daerah sekitar koloni L3.
“Radarnya kosong terus, ya Heero.”
“Nampaknya memang begitu… Hmh, bosan juga…”
“Hihihi…aku heran juga, orang dingin sepertimu bisa juga bosan.”
“Aku kan manusia juga.”
“Setel MP3 saja. Aku punya beberapa lagu…”
“Tak perlu. Ngobrol denganmu juga asyik kok.”
Tiba-tiba alarm berbunyi. Lima belas titik merah muncul di radar mereka, mendekat dengan cepat.
“Rudal Stringshot. Tumbukan dalam sembilan belas detik,” geram Heero dingin.
“Roger. Manuver evasive,” balas Meia cepat sambil memutar kemudi dan menginjak pedal akselerasi. Bulir keringat dingin tiba-tiba muncul di wajahnya.
Dalam kecepatan tinggi Vandread yang mereka kendalikan menari-nari menghindari lima belas misil penjejak panas yang meluncur cepat menuju mereka. Akhirnya Heero melepaskan flare untuk mengecoh rudal-rudal itu. Berhasil. Rudal-rudal itu meledak beberapa puluh meter dari Vandread mereka. Gelombang kejutnya sedikit mengguncang mobile suit itu.
“Sial…nyaris kita jadi daging bakar…”
“Heero…a-…aku…”
“Kenapa, Meia? Kamu sakit?”
“A-…ak…uhk…”
“MEIAAAAA!”
…
“Eng… Heero? Boleh aku masuk?” Tanya seorang gadis berambut panjang berseragam militer.
“Heh? …Eng…, silakan, Dita…” balas Heero, yang sedang duduk tertunduk di samping ranjang tempat Meia terbaring koma, lemas.
“Masih mengkhawatirkan Meia?”
“Hmh…”
“Heero,…begini, ada yang ingin kubicarakan…tentang Meia…”
“Hm…katakan saja…”
“Sebenarnya Meia punya trauma masa kecil…”
Heero terkesiap. Mungkin ini sebabnya, pikirnya.
“Koloni yang dia huni dulu pernah dihancurkan rudal… katanya sih rudal Stringshot…kedua orangtuanya meninggal karena peristiwa itu…”
Heero tertunduk lesu. Wajah dinginnya yang kuyu menyiratkan kesedihan.
“Eng…kalau begitu, Heero, aku pergi dulu, sortieku sudah hampir nih,…”
“Ya…dan terima kasih untuk keterangannya, Dita…”
“Yah, sama-sama,” balas Dita sambil beranjak pergi keluar dan menutup pintu.
Heero pun terdiam sesaat, sebelum berdiri dan mengecup dahi Meia, sebelum meninggalkan kamar rumah sakit tentara itu.
“Aku pergi dulu, Meia…Mereka harus mendapat balasan yang setimpal…” gumamnya sebelum menutup pintu.
…
Malam sudah cukup larut, tapi Releena masih bekerja di belakang mejanya. Masih ada beberapa berkas dokumen lagi yang belum diperiksa.
“Releena,” geram Heero sambil mengetuk pintu.
“He…Heero? Kaukah itu?”
“Ya.”
Dengan satu gerakan lembut tapi cepat, Heero menarik sebuah pistol dari saku bagian dalam jaket panjangnya, langsung diarahkan ke leher Releena.
“Siapa yang membantumu.” Tanya Heero dingin.
“Apa maksudmu? A…ada apa ini?”
“Stringshot termasuk rudal yang tidak bisa digunakan tanpa izin khusus… Dan cuma orang-orang setingkat kamu atau yang lebih tinggi saja yang bisa mengeluarkan izin itu.”
“A…aku…”
“Jangan berbohong. Siapa.”
“Ti….tidak….bu…kan…”
Pistol itu menyalak sekali, menembus dan memecahkan kaca jendela tepat di belakang Releena.
“Sayang sekali, luput. Oh, ya, tidak akan ada yang bisa menolongmu. Isi kantor ini, selain kau dan aku, sedang cuti ke alam mimpi.”
“He…Heero…ja-…jangan…”
“Hmh. Kupikir kamu lebih tegar. Cepat, sebelum jariku jadi kejang dan menekan pelatuk ini.”
“Ti…tak…ada…”
“Hm. Bagus. Jadi tak akan ada korban sia-sia. Aku benci buang-buang peluru.”
“He…Heero…Aku…”
Pistol itu menyalak sekali lagi. Kali ini tepat mengenai leher Releena.
“Misi… terselesaikan,” desah Heero sebelum beranjak ke arah telepon dan menelepon ambulans.
…
Heero, dengan cepat dan tanpa diketahui orang lain, berlari menuju motor besarnya. Aku harus sampai ke RS sebelum pagi… Perasaanku tidak enak…, pikirnya sambil memacu motornya itu.
Rumah sakit tentara itu sudah gelap, tapi Heero The Perfect Soldier dapat menyelinap masuk dengan mudah. Segera dimasukinya kamar Meia di lantai 3 rumah sakit itu.
Dalam gelapnya jam tiga pagi itu Heero duduk terpekur di samping ranjang Meia. Lampu penerangan menyapukan sinarnya ke wajah kuyu Heero.
“Meia… aku…melanggar janjiku sendiri… Aku…mencabut nyawa…lagi…”
“Hee…Heero…?”
Seperti keajaiban yang tak terduga, mata Meia, yang berwarna biru laut itu, terbuka perlahan-lahan.
“Meia…?”
“Heero…aku …minta maaf…sudah…menyusahkan…”
“Aku bukan orang yang bisa memaafkan… bahkan diriku sendiri sekalipun…”
“Apa…?”
“Aku baru saja membunuh orang yang bertanggung jawab atas peristiwa yang kaualami… aku baru saja melanggar janjiku…sumpahku pada diriku sendiri.”
“Heero…”
“Meia…aku orang yang tak termaafkan…”
Heero tertunduk, dan air matanya pun mulai mengalir keluar. Meia menyentuh dahinya dengan lembut untuk menenangkannya.
“Tak apa…Aku masih akan mencintaimu sepenuh hati… Aku hanya tak ingin berpisah denganmu…Heero… walaupun aku harus…”
Perlahan Heero memeluk Meia. Meia membalas pelukannya, tapi disadarinya pegangan tangan Meia makin lama makin lemah. Air mata Heero mengalir makin deras, menyadari kemungkinan terburuk yang akan terjadi.
“Meia…jangan tinggalkan aku sendiri…”
“Heero… selamat… ting…gal…”
Tangan Meia pun akhirnya melemas. Air mata Heero makin deras.
“Tunggu aku…Meia…”
Dengan gemetar Heero mencabut pistol berperedam suara yang dibawanya, dan menembak jantungnya sendiri tanpa melepaskan pelukannya. Seulas senyum tertinggal di wajah bekunya.
…Sebulan kemudian…
“Mereka meninggal dengan tragis, ya…” desah Hilde sambil meletakkan sebatang bunga mawar, masing-masing di makam Heero dan Meia yang berdampingan.
“Ya…tak kusangka Heero begitu mencintainya,” timpal Duo sambil menutup Injil di tangannya.
“Dan sedihnya, tak ada yang menangis untuk mereka…” tambah Hilde sambil berdiri.
“Ya, kecuali kita berempat… aku, kamu, Quatre… dan Releena, mungkin,” balas Duo sambil menggamit tangan istrinya, “Ayo, sebentar lagi gelap.”
Mereka pun mulai berjalan pergi. Di sore berawan itu, terlukis senyum Heero dan Meia di ufuk barat yang berwarna lembayung.
|